Posted on 07.55

SOAL BAB 7: MEMAHAMI KONSEP PENDAPATAN NASIONAL

Soal:
1. Sebutkan dan jelaskan 3 metode perhitungan pendapatan nasional !

Jawab:
Ada 3 metode dalam perhitungan pendapan nasional yaitu :
Ø  Metode Produksi
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh sector ekonomi masyarakat dalam periode tertentu
Y = [(Q1 X P1) + (Q2 X P2) + (Qn X Pn) ……]

Ø  Metode Pendapatan
Pendapatan nasional merupakan hasil penjumlahan dari seluruh penerimaan (rent, wage, interest, profit) yang diterima oleh pemilik factor produksi adalam suatu negara selama satu periode.
Y = r + w + i + p

Ø  Metode Pengeluaran
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh seluruh rumah tangga ekonomi (RTK,RTP,RTG,RT Luar Negeri) dalam suatu Negara selama satu tahun.
Y = C + I + G + (X – M)
Read More

Posted on 07.50

SOAL BAB 6: MEMAHAMI KONSEP PASAR

Soal:
1. Sebutkan ciri-ciri pasar monopoli?

Jawab:
Pasar monopoli memiliki ciri-ciri yang sangat bertentangan dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh pasar persaingan sempurna. Adapun ciri-ciri pasar monopoli adalah sebagai berikut:
1) Di dalam pasar monopoli hanya terdapat satu penjual. Barang atau jasa yang dihasilkan hanya dapat dibeli di pasar monopoli, tidak tersedia di tempat lain.
2) Jenis barang yang diproduksi atau dijual tidak ada barang penggantinya, nosubstituties yang mirip. Barang yang dihasilkan merupakan satu-satunya dan jenis barang tersebut tidak dapat digantikan oleh barang lainnya.
3) Adanya hambatan atau rintangan atau barriers bagi perusahaan baru yang akan masuk ke dalam pasar monopoli. Hambatan ini merupakan faktor kuat mengapa pasar monopoli terbentuk. Hambatan dapat berupa legalistas yaitu dibatasi oleh undang-undang, hambatan teknologi yaitu teknologi yang digunakan sangat tinggi sehingga barang sulit ditiru,  atau hambatan modal yaitu perlunya modal besar dalam memproduksi barang sejenis.
4) Pelaku pasar monopoli dapat menentukan harga barang sesuai keinginannya. Namun demikian, Penjual ini tidak mempengaruhi harga dan output dari produk lain yang dijual atau ditawarkan dalam perekonomian.
5) Sifat monopolinya menyebabkan Perusahaan tidak memerlukan promosi atau iklan dalam memasarkan produknya. Tidak ada barang alternatif atau penggantinya menyebabkan pembeli terpaksa membeli hasil produksi dari perusahaan monopoli.
Read More

Posted on 07.32

SOAL BAB 5: MEMAHAMI KONSEP LABA

Soal: 
1. Jelaskan perbedaan antara pendekatan totalitas, pendekatan rata-rata, dan pendekatan marjinal?

Jawab:
- Pendekatan Totalitas (totality approach)
Pendekatan totalitas membandingkan pendapatan total (TR) dan biaya total (TC). Jika harga jual per unit output (P) dan jumlah unit output yang terjual (Q), maka TR = P.Q. Biaya total adalah jumlah biaya tetap (FC) ditambah biaya variable per unit(v) dikali biaya variable per unit, sehingga: 
π = P.Q – (FC + v.Q)
Implikasi dari pendekatan totalitas adalah perusahaan menempuh strategi penjualan maksimum (maximum selling). Sebab semakin besar penjualan makin besar laba yang diperoleh. Hanya saja sebelum mengambil keputusan, perusahaan harus menghitung berapa unit output yang harus diproduksi untuk mencapai titik impas. Kemudian besarnya output tadi dibandingkan dengan potensi permintaan efektif.

- Pendekatan Rata-rata (average approach)
Dalam pendekatan ini perhitungan laba per unit dilakukan dengan membandingkan antara biaya produksi rata-rata (AC) dengan harga jual output (P) kemudian laba total dihitung dari laba per unit dikali dengan jumlah output yang terjual.
π = (P - AC).Q
Dari persamaan ini, perusahaan akan mencapai laba bila harga jual per unit output (P) lebih tinggi dari biaya rata-rata (AC). Perusahaan akan mencapai angka impas bila P sama dengan AC.
Keputusan untuk memproduksi atau tidak didasarkan perbandingan besarnya P dengan AC. Bila P lebih kecil atau sama dengan AC, perusahaan tidak mau memproduksi. Implikasi pendekatan rata-rata adalah perusahaan atau unit usaha harus menjual sebanyak-banyaknya (maximum selling) agar laba (π) makin besar.

- Pendekatan Marginal (marginal approach)
Perhitungan laba dilakukan dengan membandingkan biaya marginal (MC) dan pendapatan marginal (MR). Laba maksimum akan tercapai pada saat MR = MC.
π = TR – TC
Laba maksimum tercapai bila turunan pertama fungsi π(δ π /δQ) sama dengan nol dan nilainya sama dengan nilai turunan pertama TR (δTR/ δQ atau MR) dikurangi nilai turunan pertama TC (δTC/ δQ atau MC). Sehingga MR – MC = 0. Dengan demikian, perusahaan akan memperoleh laba maksimum (atau kerugian minimum) bila ia berproduksi pada tingkat output di mana MR = MC.
Read More

Posted on 04.56

STUDI POLA PENANGANAN SAMPAH RUMAH TANGGA TERHADAP SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN PENGEMBANGAN MODEL DINAMIK, STUDI KASUS KOTAMADYA BANDUNG


I Made Wahyu Widyarsana, Tri Padmi Damanhuri, Haryo Satrio Tomo
Program Studi Teknik Lingkungan ITB, Jl. Ganesha 10 Bandung, 40132


Abstrak
Pada pertengahan sampai akhir tahun 2005 (kondisi stabil) dilakukan penelitian mengenai pola
penanganan sampah rumah tangga (domestik) dengan metode penyebaran kuisioner langsung secara acak dan proporsional pada 3 (tiga) strata ekonomi masyarakat (strata bawah-menengah-atas) serta kuisioner via telepon secara acak sebagai data pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan satuan timbulan sampah domestik menjadi rata-rata 3,37 liter/orang/hari, sehingga berdasarkan perhitungan sampah domestik Kota Bandung menjadi 7.481 m3/hari di sumber atau 4.987 m3/hari dengan pemadatan di alat pengangkut. Skenario optimum dikembangkan dengan sasaran memaksimalkan pencapaian 3-R (reuse, recycle, recovery) dan meminimasi penanganan sampah yang berdampak negatif (eksternalitas dis-ekonomi), sehingga diperoleh persentase akumulasi timbulan sampah yang harus dibuang ke area pengurugan hanya sebesar 17,76% dari total timbulan sampah di sumber untuk masa perencanaan 20 tahun tersebut.


Kata Kunci : eksternalitas, model dinamik, pola penanganan, sampah rumah tangga, skenario optimum.


Pendahuluan
Meningkatnya kompleksitas permasalahan lingkungan yang dihadapi Kota Bandung seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan perkembangan sosial ekonomi di wilayah Bandung Raya.
Pola penanganan sampah dapat dibagi menjadi pola penanganan yang berdampak positif
dan pola penanganan yang berdampak negatif. Apabila menimbulkan dampak positif disebut eksternalitas ekonomi, sedangkan sebaliknya disebut eksternalitas dis-ekonomi.


Prosedur Penelitian
Tahapan prosedur penelitian yang diterapkan dalam penelitian mengenai pola penanganan
sampah rumah tangga di Kota Bandung, meliputi :

   1.       Studi literatur
   2.       Pengumpulan data sekunder
   3.       Survei lapangan pada daerah studi
   4.       Wawancara
   5.       Kuisioner langsung
   6.       Kuisioner via telepon
   7.       Analisis statistika
   8.       Kajian pengembangan skenario pengelolaan sampah Kota Bandung dengan menerapkan
          model dinamik


Hasil dan Pembahasan
   1.       Kebersihan Kota Bandung adalah sekitar 7.500 m3/hari (sampah domestik 66,02%) dengan tingkat pelayanan pengangkutan pada tahun 2004 sebesar 60,17%
   2.       Sistem pengelolaan yang diterapkan di Kota Bandung dibedakan atas sistem untuk pemukiman dan non-pemukiman atau domestik dan non domestik.
   3.       Masalah persampahan di Kota Bandung adalah semakin meningkatnya timbulan (generate) sampah yang berasal dari pemukiman penduduk, pasar, pusat perdagangan dan industri.

Kesimpulan
   1.       Cara penanganan sampah oleh berbagai sumber maupun stakeholder yang terlibat di dalam pengelolaan sampah Kota Bandung cukup bervariasi.
   2.       Penanganan sampah yang merupakan penyebab eksternalitas dis-ekonomi (negatif) dengan cara pembakaran memiliki persentase terbesar, yaitu untuk sampah rumah tangga (domestik) telah dilakukan oleh 28,84% responden (dengan tingkat partisipasi 0,63 kali/minggu atau 63 kali dalam 100 minggu).
   3.       Skenario optimum dikembangkan untuk memperbaiki kinerja pengelolaan sampah Kota Bandung untuk masa perencanaan selama 20 tahun mendatang, dengan sasaran memaksimalkan pencapaian 3-R (reuse, recycle, recovery.

Daftar Pustaka
A. Yakin. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (Teori dan Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan). Jakarta : Akademika Presindo. 1997.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung. Bandung Dalam Angka Tahun 2004/2005. Bandung : BPS Kota Bandung. Agustus 2005.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Bandung. Buku Rencana : Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung 2013. Bandung : Pemerintah Kota Bandung. 2004.
E. Damanhuri; E. Sembiring. Evaluasi Ulang (Updating) Potensi Daur-ulang Sampah Kota Bandung sebagai Dasar Penentuan Pengelolaan Sampah Berbasis 3-R, Program Riset ITB 2005. Bandung : LPPMITB/PWI. 2005.
Jay W. Forrester. System Dynamics, System Thinking and Soft OR. Massachusetts Institute of Technology. 1992.
PD. Kebersihan Kota Bandung. Updating Database on Website Bandung.go.id. Bandung : PD Kebersihan Kota Bandung. 2005.
SK SNI M–36–1991-03 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan
______________ ITB Peduli TPA Leuwigajah dan Sampah Bandung Raya, Laporan Satgas ITB. Bandung : LPPM ITB. April 2005.
______________ Pedoman Pengelolaan Persampahan Perkotaan bagi Pelaksana. Jakarta : Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2003.
______________ User’s Guide and Reference : POWERSIM, The Complete Software Tool for Dynamic
Simulation. ModellData AS. 1993-1994.


Read More

Posted on 07.33

Pendidikan Karakter: Proaktif

Seseorang yang memiliki sikap proaktif selalu memiliki visi ke depan, memandang masa depan dengan penuh optimisme, selalu aktif dan memikirkan apa yang dapat mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Sikap proaktif cenderung mengarah pada tindakan ( action ) yang positif. Tindakan proaktif berbeda dengan tindakan reaktif yang hanya bisa mengumbar keluhan akan keadaannya.

Manusia yang proaktif selalu berpusat pada lingkaran pengaruh, dalam arti hidupnya selalu dipenuhi dengan kata “Menjadi”. Mereka menjadi lebih sabar, menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih penuh kasih sayang, menjadi pendengar yang baik. 
Pada dasarnya, manusia proaktif tidak hanya berangan-angan atau terbuai dengan mimpi mereka.  Namun mereka cenderung  take action untuk  mewujudkan mimpinya, penuh kreativitas, memiliki komitmen yang  kuat untuk meraih kesuksesan.
Read More